Friday, November 28, 2014

LAPORAN PRAKTIKUMEAKSI ASETILASI ANILIN

LAPORAN PRAKTIKUM
 KIMIA ORGANIK II

I.       NOMOR PERCOBAAN            : VI
II.    NAMA PERCOBAAAN            : REAKSI ASETILASI ANILIN
III.   TUJUAN PERCOBAAN            :
        Agar mahasiswa dapat mengetahui salah satu cara mensintesa senyawa amida.

IV.   DASAR TEORI
Anilin merupakan senyawa amonia aromatik dimana gugus hidrogen pada cincin aromatik digantikan oleh NH2. Anilin merupakan senyawa yang bersifat basa, dengan titik didih 1800 C dan indeks bias 158 . Jika kontak dengan cahaya matahari anilin akan mengalami reaksi oksidasi. Dalam kehidupan sehari hari digunakan untuk zat warna . Anilin dibuat melalui reaksi reduksi dengan bahan baku nitrobenzene.
Anilin merupakan cairan minyak tak berwarna yang mudah menjadi coklat karena oksidasi atau terkena cahaya, bau dan cita rasa khas, basa organik penting karena merupakan dasar bagi banyak zat warna dan obat toksik bila terkena, terhirup, atau terserap kulit. Senyawa ini merupakan dasar untuk pembuatan zat warna diazo. Anilin dapat diubah menjadi garam diazoinum dengan bantuan asam nitrit dan asam klorida. 
Anilin pertama kali diisolasi dari distilasi destruktif indigo pada tahun 1826 oleh Otto Unverdorben, yang menamakan itu kristalisasi. Pada 1834, Friedrich Runge mengisolasi dari tar batubara zat yang menghasilkan warna biru yang indah pada pengobatan dengan klorida kapur , yang bernama kyanol atau cyanol. Pada tahun 1841, CJ Fritzsche menunjukkan bahwa, dengan memperlakukan indigo dengan potas api, itu menghasilkan minyak, yang ia beri nama anilina, dari nama spesifik dari salah satu tanaman nila, dari Portugis anil “semak indigo" dari bahasa Arab an- nihil "nila" asimilasi dari al-nihil, dari nila Persia, dari nili "indigo" dengan Indigofera anil, anil yang berasal dari Sansekerta नीली nila, biru tua, nila, dan pabrik nila. Dalam waktu yang sama NN Zinin menemukan bahwa, untuk mereduksi nitrobenzena, dasar terbentuk, yang ia beri nama benzidam. Agustus Wilhelm von Hofmann menyelidiki zat tersebut siap dengan berbagai cara, dan terbukti mereka menjadi identik (1855), dan sejak itu mereka menyatukan konsep dengan nama Fenilamin anilin.  (Puspita 2011 : 1) 
Jika anda mengambil dua molekul asam etanoat dan menghilangkan sebuah molekul air diantara kedua molekul tersebut (lihat gambar berikut) maka akan diperoleh anhidrida asam yakni anhidrida etanoat (nama lama: anhidrida asetat). Sebenarnya kita bisa membuat anhidirida etanoat dengan mendehidrasi asam etanoat, tetapi anhidrida ini biasanya dibuat dengan cara yang lebih efisien dan lebih sederhana. Pemberian nama untuk anhidrida asam sangat mudah. Cukup mengambil nama asam induk, dan mengganti kata "asam" dengan "anhidrida". "Anhidrida" berarti "tanpa air". Dengan demikian, asam etanoat akan menjadi anhidrida etanoat; asam propanoat menjadi anhidrida propanoat, dan seterusnya.
     Anhidrida etanoat merupakan cairan yang tidak berwarna dengan bau yang sangat mirip dengan asam cuka (asam etanoat). Bau ini timbul karena anhidrida etanoat bereaksi dengan uap air di udara (dan kelembaban dalam hidung) menghasilkan asam etanoat kembali.  Anhidrida etanoat tidak bisa dikatakan larut dalam air karena dia bereaksi dengan air menghasilkan asam etanoat. Tidak ada larutan cair dari anhidrida etanoat yang terbentuk. Anhidrida etanoat mendidih pada suhu 140°C. Titik didih cukup tinggi karena memiliki molekul polar yang cukup besar sehingga memiliki gaya dispersi van der Waals sekaligus gaya tarik dipol-dipol. Akan tetapi, anhidrida etanoat tidak membentuk ikatan hidrogen. Ini berarti bahwa titik didihnya tidak sama tingginya dengan Titik didih asam karboksilat yang berukuran sama. Sebagai contoh, asam pentanoat (asam yang paling mirip besarnya dengan anhidrida etanoat) mendidih pada suhu 186°C.
Anhidrida asam bisa dianggap sebagai asil klorida yang termodifikasi. Memahami anhidrida asam akan jauh lebih mudah jika kita menganggapnya seolah-olah asil klorida yang termodifikasi dibanding jika jika kita mempelajarinya secara terpisah. Itulah sebabnya pada halaman ini dibuat perbandingan antara anhidrida asam dengan asil klorida. Bandingkan struktur anhidrida asam dengan struktur asil klorida – perhatikan dengan cermat bagian yang diberi warna merah dalam gambar.
Dalam reaksi-reaksi anhidrida etanoat, gugus yang berwarna merah tersebut selalu tetap dalam keadaan utuh. Gugus-gugus ini seolah-olah merupakan sebuah atom tunggal – persis seperti atom klorida pada asil klorida. Jim Clark, 2007 : 1)
Jika membandingkan persamaan reaksi di atas dengan persamaan reaksi untuk asil klorida, anda bisa melihat bahwa satu-satunya perbedaan adalah bahwa yang dihasilkan sebagai produk kedua adalah asam etanoat, bukan hidrogen klorida seperti pada reaksi asil klorida.Reaksi-reaksi anhidrida asam persis sama seperti reaksi-reaksi asil klorida yang sebanding kecuali asam etanoat terbentuk sebagai produk kedua bukan gas hidrogen klorida.Reaksi berlangsung lebih lambat, anhidrida asam tidak terlalu reaktif seperti asil klorida. Reaksi dengan air, dengan memodifikasi persamaan umum yang disebutkan di atas, yaitu X-OH diganti dengan H-OH (air), maka akan diperoleh dua molekul asam etanoat. Reaksi ini berlangsung lambat pada suhu kamar (lebih cepat jika dipanaskan) tanpa ada hal-hal menarik yang bisa diamati (berbeda dengan asil klorida dimana asap hidrogen klorida terbentuk). Pada reaksi ini anda mencampur dua cairan tidak berwarna dan memperoleh cairan tidak berwarna lainnya. Reaksi dengan alkohol, kita akan memulai dengan mengambil contoh alkohol secara umum yang bereaksi dengan anhidrida etanoat. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut. Produk yang terbentuk kali ini (selain asam etanoat yang selalu terbentuk) adalah sebuah ester. Sebagai contoh, dengan etanol akan diperoleh ester etil etanoat:


Reaksi ini juga memerlukan sedikit pemanasan agar bisa berlangsung dengan laju reaksi yang cukup, dan lagi-lagi tidak ada kejadian dramatis yang bisa diamati.
Reaksi dengan fenol , fenol memiliki sebuah gugus -OH yang terikat langsung pada sebuah cincin benze. Dalam zat yang biasanya disebut “fenol”, tidak ada lagi yang terikat pada cincin selain gugus -OH tersebut. Kita akan membahas ini terlebih dahulu. Reaksi antara fenol dengan anhidrida asam tidak begitu penting, tetapi akan diperoleh ester persis seperti pada reaksi dengan alkohol.

Reaksi dengan fenilamin (anilin), Fenilamin adalah amina primer yang paling sederhana dimana gugus -NH2 terikat secara langsung pada sebuah cincin benzen. Nama lamanya adalah anilin. Pada fenilamin, hanya gugus -NH2 yang terikat pada cncin. Rumus struktur fenilamin bisa dituliskan sebagai C6H5NH2. Tidak ada perbedaan esensial antara reaksi ini dengan reaksi dengan metilamin, tetapi terbentuknya struktur amida yang tersubstitusi-N perlu dipahami. Persamaan reaksi lengkapnya adalah sebagai berikut:

anhydphnh2eq
 


Produk yang terbentuk adalah N-feniletanamida dan fenilamonium etanoat. Reaksi ini terkadang terlihat lebih rumit jika fenilamin digambarkan dengan memperlihatkan cincin benzennya, dan khususnya jika reaksi dijelaskan dari sudut pandang fenilamin.
Amati molekul ini dalam bentuk yang memperlihatkan cincin benzennya, perhatikan bahwa salah satu hidrogen dari gugus -NH2 telah digantikan oleh sebuah gugus asil (sebuah gugus alkil yang terikat pada sebuah ikatan rangkap C=O).Kita  bisa mengatakan bahwa fenilamin telah terasilasi atau telah mengalami asilasi. Karena sifat dari gugus alkil yang khusus ini, maka proses ini juga disebut sebagai etanoilasi. Hidrogen digantikan oleh sebuah gugus etanoil, CH3CO-. (Mahirullah, 2013 : 1) Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Kraft pada tahun 1872 dengan cara mereaksikan asethopenon dengan NH2OH sehingga terbentuk asetophenon oxime yang kemudian dengan bantuan katalis dapat diubah menjadi asetanilida.Pada tahun 1899 Beckmand menemukan asetanilida dari reaksi antara benzilsianida dan H2O dengan katalis HCl. Pada tahun 1905 Weaker menemukan asetanilida dari anilin dan asam asetat.
Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis yang digolongkan sebagai amida primer, dimana satu atom hidrogen pada anilin digantikan dengan satu Gugus asetil. Asetinilida berbentuk butiran berwarna putih tidak larut dalam minyak parafin dan larut dalam air dengan bantuan kloral anhidrat. Asetanilida atau sering disebut phenilasetamida mempunyai rumus molekul C6H5NHCOCH3 dan berat molekul 135,16.Nitrasi asetanilida dalam larutan asam asetaat menghasilkan p-nitro asetanilida.
Dalam perancangan pabrik asetanilida ini digunakan proses antara asam asetat dengan anilin. Pertimbangan dari pemilihan proses ini adalah pertama reaksinya sederhana. Kedua, tidak menggunakan katalis sehingga tidak memerlukan alat untuk regenerasikatalis dan tidak perlu menambah biaya yang digunakan untuk membeli katalissehingga biaya produksi lebih murah.
Asetanilida dibuat dari reaksi antara anilon dengan asam asetat. Produknya berupa kristal yang dimurnikan dengan kristalisasi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: C6H5NH2 + CH3COOH C6H5NHCOCH3 + H2O
Anilin dan asam asetat ( 100% berlebih ) dimasukkan kedalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan jaket. Reaksi berlangsung selama 6 jam pada temperatur 155oC dan tekanan 2,5 atm. Produk kemudian dikristalkan, dicentrifuge, dicuci dan kemudian dikeringkan.
Mekanisme reaksi pembuatan Asetanilida disebut juga dengan reaksi asilasi amida yang diberikan oleh Fessenden, sebagai berikut : Mula – mula anilin bereaksi dengan asam asetat membentuk suatu amida dalam keadaan transisi, kemudian diikuti dengan reduksi H2O membentuk asetanilida. Substitusi aromatik elektrofilik adalah reaksi organik dimana sebuak atom, biasanya hidrogen, yang terikat pada sistem aromatis diganti dengan elektrofil. Reaksi terpenting di kelas ini adalah nitrasi aromatik, halogenasi aromatik, sulfonasi aromatik dan asilasi dan alkilasi reaksi Friedel-Crafts. Asetanilida banyak digunakan dalam industri kimia , antara lain sebagai Bahan baku pembuatan obat – obatan, sebagai zat awal penbuatan penicilium, bahan pembantu dalam industri cat dan karet dan bahan intermediet pada sulfon dan asetilklorida.           
Ada beberapa proses pembuatan asetanilida, yaitu  Pembuatan asetanilida dari asam asetat anhidrid dan anilin Larutan benzene dalam satu bagian anilin dan 1,4 bagian asam asetat anhidrat direfluk dalam  sebuah  kolom yang dilengkapi dengan jaket sampai tidak ada anilin yang tersisa.Campuran reaksi disaring, kemudian  kristal dipisahkan dari air panasnya dngan pendinginan, sdan filtratnya direcycle kembali. Pemakaian asam asetat  anhidrat dapat diganti dengan asetil klorida.    
Asetanilida dari asam asetat dan anilin. Metode ini merupakan  metode awal yang masih digunakan karena lebih ekonomis. Anilin dan asam asetat berlebih 100 % direaksikan dalam sebuah tangki yang dilengkapi dengan pengaduk. Reaksi berlangsung selama 6 jam pada suhu 150oC – 160oC. Produk dalam keadaan panas dikristalisasi dengan..menggunakan..kristalizer. Pembuatan asetanilida dari ketene dan anilin, Ketene ( gas ) dicampur kedalam anilin di bawah kondisi yang diperkenankan akan menghasilkan asetanilida. Reaksinya : C6H5NH2 + H2C=C=O C6H5NHCOCH3        
Reaksinya : C6H5NH2 + CH3COSH C6H5NHCOCH3 + H20. (Diah Pramushinta, 2011 : 1)   Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan dalam macam –macam destilasi walau pada prinsipnya agak berkelainan. Refluks dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan jalan  pemanasan tetapi tidak akan mengurangi jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa organik adalah “lambat” maka campuran reaksi perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat cepat, dengan jalan pemanasan tetap jumlahnya tetap reaksinya dilakukan secara refluks. ( Tiya Purnama, 2012 : 1)           Refluks merupakan prosedur mudah untuk reaksi dalam fase cair. Pada metode ini, prinsipnya Adalah pemanasan dalam labu yang didalamnya terdapat Campuran suatu bahan. Refluks dilakukan dengan memanaskan larutan dan pengembunan uapnya, sehingga hasil pengembunan uap tersebut kembali ke labu reaksi.  Refluks adalah proses pemanasan dimana tidak ada senyawa yang hilang prinsipnya adalah pemanasan pada labu bulat yang di dalamnya terdapat campuran suatu bahan. Refluks dapat dikatakan juga sebagai proses pemanasan dimana tidak ada senyawa yang hilang. Adalah suatu proses pemanasan dengan keistimewaan bahwa pelarutnya tidak menguap.
 Refluks, salah satu metode dalam ilmu kimia untuk men-sintesis suatu senyawa, baik organik maupun anorganik. Umumnya digunakan untuk mensistesis senyawa-senyawa yang mudahmenguapa atau volatile. Pada kondisi ini jika dilakukan pemanasan biasa maka pelarut akanmenguap sebelum reaksi berjalan sampai selesai. Prinsip dari metode refluks adalah pelarutvolatil yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengankondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut akan tetap ada selamareaksi berlangsung. Sedangkan aliran gas N2 diberikan agar tidak ada uap air atau gasoksigen yang masuk terutama pada senyawa organologam untuk sintesis senyawa anorganik karena sifatnya reaktif.
Kondensor yang digunakan adalah pendingin bola, bukan pendingin Liebig, tujuannya untuk menghalangi uap pelarut tetap ada. bayangkan apabila menggunakanLiebig, bisa-bisa senyawa yang akan disintesis tidak ada hasilnya, karena kesemuanya sudahmenguap.Prosedur dari sintesis dengan metode refluks adalah semua reaktan atau bahannyadimasukkan dalam labu bundar leher tiga. Kemudian dimasukkan batang magnet stirersetelah kondensor pendingin air terpasang, campuran diaduk dan direfluks selama waktutertentu sesuai dengan reaksinya. Pengaturan suhu dilakukan pada penangas air, minyak ataupasir sesuai dengan kebutuhan reaksi. Gas N2 ¬dimasukkan pada salah satu leher dari labubundar.Refluks merupakan teknik yang melibatkan kondensasi uap dan kembali kondensat inike sistem dari mana ia berasal. Hal ini digunakan dalam industri dan Laboratorium distilasi.Hal ini juga digunakan dalam kimia untuk memasok energi untuk reaksi-reaksi selama jangkawaktu yang panjang. (Arief Hidayat, 2012 : 1)
Kristalisasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam pemurnian produk padatan kristal hasil kristal atau isolasi yang masih terkontaminasi kotoran dilakukan kristalisasi. Kristalisasi dilakukan dengan pelarut yang tepat seperti dapat melarutkan kotoran dengan baik. Kristalisasi adalah proses pembentukan kristal padat dari suatu larutan induk yang homogen. Proses ini adalah salah satu teknik pemisahan padat-cair yang sangat penting dalam industri, karena dapat menghasilkan kemurnian produk hingga 100%. Contoh proses kristalisasi : pembuatan gula pasir dari jus tebu/beet, pembuatan kristal pupuk dari larutan induknya.    Kristal itu sendiri merupakan susunan atom yang beraturan dan berulang, yang bentuknya dapat berupa kubik, tetragonal, orthorombik, heksagonal, monoklin, triklin dan trigonal. Bentuk itu nantinya, tergantung dari proses downstream (pemurnian) yang dilakukan dan juga spesifikasi produk yang diharapkan pasar. Syarat utama terbentuknya kristal dari suatu larutan adalah larutan induk harus dibuat dalam kondisi lewat jenuh (supersaturated). Yang dimaksud dengan kondisi lewat jenuh adalah kondisi dimana pelarut (solven) mengandung zat terlarut. (solute) melebihi kemampuan pelarut tersebut untuk melarutkan solute pada suhu tetap. Berdasarkan teori, solubilitas padatan dalam cairan akan menurun seiring dengan penurunan suhu (pendinginan).  Seiring dengan penurunan suhu, saturasi akan meningkat sedemikian hingga, sampai tercapai kondisi supersaturasi.  Pendinginan adalah salah satu dari 4 cara yang dapat digunakan untuk mencapai kondisi supersaturasi. Akan tetapi cara ini hanya dapat dilakukan jika, solubilitas padatan dalam larutan sangat dipengaruhi oleh suhu. Dan untuk senyawa Ce2(SO4)3 cara ini tidak berlaku, karena kelarutan senyawa ini dalam air akan berkurang dengan kenaikan suhu. (Farida, 2010 : 1)
Tahap-tahap kristalisasi, sebagai berikut: : Pertama, melarutkan zat dalam pelarut panas. Lalu, menyaring larutan panas untuk menghilangkan kotoran yang tidak larut. Mendinginkan larutan dan mengendapkan kristalnya. Tahap selanjutnya, menyaring larutan dingin untuk memisahkan kristal dari larutan dan mencuci kristal untuk menghilangkan pelarut yang melekat. Terakhir, Mengeringkan kristal untuk menghilangkan pelarut
Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak digunakan, dimana zat-zat tersebut atau zat-zat padat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam pelarut tertentu di kala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap (Arsyad, 2001).
Kemudahan suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran-ukuran kristalnya. Semakin besar kristal-kristal yang terbentuk selama berlangsungnya pengendapan, makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali (meski tak harus) makin cepat kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan, yang lagi-lagi akan membantu penyaringan. Bentuk kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus, oktahedron, atau jarum-jarum, sangat menguntungkan, karena mudah dicuci setelah disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks, yang mengandung lekuk-lekuk dan lubang-lubang, akan menahan cairan induk (mother liquid), bahkan setelah dicuci dengan seksama. Dengan endapan yang terdiri dari kristal-kristal demikian, pemisahan kuantitatif lebih kecil kemungkinannya bisa tercapai (Svehla, 1979). Ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan, tergantung pada dua faktor penting yaitu laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal. Jika laju pembentukan inti tinggi, banyak sekali kristal akan terbentuk, tetapi tak satupun dari ini akan tumbuh menjadi terlalu besar, jadi terbentuk endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh dari larutan. Makin tinggi derajat lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk membentuk inti baru, jadi makin besarlah laju pembentukan inti. Laju pertumbuhan kristal merupakan faktor lain yang mempengaruhi ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan berlangsung. Jika laju ini tinggi, kristal-kristal yang besar akan terbentuk yang dipengaruhi oleh derajat lewat jenuh . (Annisa, 2008 : 1)
V.        ALAT DAN BAHAN

Alat        :           -     Labu Erlenmeyer
-          Penangas air 
-          Beker gelas
-          Kertas saring
-          Batang pengaduk 
Bahan    :           -     20 ml anilin
-     20 ml asam asetat anhidrat
-     10 ml asam asetat glasial
-     1 mg serbuk seng
-     Air suling
-     Batu es

VII.    SIFAT FISIKA DAN KIMIA BAHAN

1.    Anilin
-        Rumus Molekul : C6H5NH2
-        Berat Molekul : 93,12 g/mo
-        Titik didih normal : 184,4oC
-        Pemerian : cairan minyak, tidak berwarna ketika baru didestilasi,menjadi gelap bila terkena cahaya dan udara, rasa yang khusus danmembakar, mudah terbakar, menguap pada pemanasan
-        Kelarutan : larut dalam air (1:28,6), air mendidih (1:15,7), tidak campur dalam alkohol, benzena kloroform, dan pelarut organik lainnya.Bereaksi dengan asam membentuk garam.

2.    Anhidrida Asetat
-        Rumus Molekul : (CH3CO)2O
-        Berat Molekul : 102,09 g/mol
-        Wujud : Cair 
-        Titik Leleh : 73oC
-        Titik Didih : 139oC
-        Kelarutan : pelan-pelan larut dalam air membentuk asam asetat,dengan alkohol membentuk etil asetat, larut dalam kloroform dan eter 
-        Bau : bau cuka sangat kuat
-        Mudah terbakar 

3.    Asam Asetat Glasial
-        Rumus Molekul : C2H4O2
-        Berat Molekul : 60,05 g/mol
-        Pemerian : cairan jernih tidak berwarna, bau gas menusuk, rasaasam jika diencerkan, cepat memadat pada pendinginan. Merupakan pelarut yang baikuntuk beberapa komponen organik, juga untuk fosfor,sulfur dan asam halogen.
-        Kelarutan : dapat bercampur dengan air, alkohol gliserol, eter,karbon tetraklorida, tidak larut dalam karbinat, hidroksida, oksida, fosfat.
-        Titik didih : 118oC
-        Titik Leleh : 16,7oC

4.      Serbuk Seng ( Zinc dust )
-        Berat atom : 65,38 g/mol
-        Titik Didih : 908oC
-        Titik Leleh : 419,5oC
-        Pemerian : logam, bentuk hexagonal, stabil di udara kering,tertutup oleh selaput putih dari dasar  karbinat dalam udara basah.

VIII. MSDS BAHAN
1.      ANILIN
         Menyebabkan mata terbakar.  Menyebabkan konjungtivitis kimia penyebab kerusakan kornea. Penyebab kulit terbakar. Dapat menyebabkan ruam kulit (dalam kasus-kasus ringan), dan kulit dingin dan lembap dengan  sianosis atau warna pucat. Tertelan : Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan luka bakar saluran pencernaan. Dapat menyebabkan perforasi dari  saluran pencernaan. Penyebab sakit parah, mual, muntah, diare, dan shock. Dapat menyebabkan kerusakan permanen jaringan dan korosi dari kerongkongan dan saluran pencernaan. Iritasi dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru. Penyebab parah iritasi saluran pernapasan bagian atas dengan  batuk, luka bakar, kesulitan bernapas, dan koma mungkin. Menyebabkan luka bakar pada saluran pernafasan.  Kontak kulit berulang atau berkepanjangan dapat menyebabkan dermatitis. Efek mungkin tertunda.

2.      ANHIDRIDA ASETAT
Menyebabkan mata terbakar. Cuci dengan air mengalir 15 menit. Penyebab kulit terbakar. Basuh dengan air mengalir. Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Jangan dimuntahkan . bawa kedokter

3.      ASAM ASETAT GLASIAL
                        Iritasi dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru. Langsung menghirup udara segar , jika sesak berikan oksigen tambahan. Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Menyebabkan luka bakar saluran pencernaan. Jangan dimuntahkan , hubungi dokter. Kulit : Penyebab kulit terbakar. Bilas dengan air mengalir selama 15 menit

4.      SENG
Menyebabkan mata terbakar. Cuci dengan air mengalir 15 menit. Bila parah hubungi dokter. Penyebab kulit terbakar. Basuh dengan air mengalir 15 menit. Dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran pencernaan. Jangan dimuntahkan . bawa kedokter

X. DATA HASIL PENGAMATAN

Penambahan Aquades + Refluks
Warna Kristal
Bentuk Kristal
I
Coklat Muda
Kasar
II
Lebih Jernih
Agak Halus

Keadaan Larutan
Setelah Didinginkan (rekristalisasi)
Sebelum Dipanaskan (kristalisasi)
Mencair
Mengkristal

Nama Bahan
Berat (gram)
Volume (ml)
Anilin
-
4
Asam Anhidrat
-
4
Asam Asetat Glasial
-
2
Zn
0,01
-
Kristal Asetanilda
0,7065
-

XI. REAKSI DAN PERHITUNGAN

Perhitungan     :
W kertas saring = 0,635
W kertas saring + isi = 1,3415 gram
W isi = (W kertas saring + isi) – (W kertas saring)
          = 1,3415 – 0,635
          = 0,7065 gram

XII. PEMBAHASAN

     Pada praktikum kali ini praktikan melalukan percobaan yang berjudul reaksi asetilasi anilin. Bahan-bahan yang akan digunakan pada praktikum kali ini diantaranya anhidrida asam asetat, anilin, asam asetat glasial, Zn dan es batu, serta aquades. Anhidrida asam asetat berfungsi sebagai pelarut bersifat asam, melepaskan ion H+ yang juga sangat mempengaruhi reaksi agar membentuk suatu garam amina pada atom C. Anilin berfungsi sebagai reaktan atau pereaksi. Anilin bereaksi dengan asam asetat anhidrida membentuk suatu amida dalam anilida. Anilin juga berperan dalam menyumbang gugus anilida. Asam asetat glasial berfungsi sebagai zat penghidrasi dan mengondisikan suasana asam pada campuran serta mencegah terbentuknya lisis senyawa turunan diasetilisasi. Adanya suasana asam ini dapat menghidrolisis senyawa turunan diasetil yang terbebtuk menjadi senyawa turunan monoasetil, sehingga asam asetat glasial ini dapat mencegah terjadinya reaksi samping senyawa turunan diasetil. Zn berfungsi sebagai katalisator. Aquades berfungsi sebagai pelarut, sedangkan batu es berfungsi mempercepat terbentuknya kristal.
Pada percobaan ini juga digunakan garam yang dimasukkan kedalam, celah- celah es batu. Hal tersebut bertujuan agar suhu es batu tidak mudah turun dan menjaga es batu agar tidak mencair.       Kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute) untuk larut dalam suatu pelarut (solvent) dikenal sebagai kelarutan. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan diantaranya suhu, ukuran, zat terlarut, volume pelarut, dan pengadukan.
Suhu dapat mempengaruhi kelarutan. Pelarut dengan suhu yang lebih tinggi akan lebih cepat melarutkan zat terlarut dibandingkan pelarut dengan suhu lebih rendah. Oleh karena itu, maka dilakukanlah pemanasan. Ketika pemanasan, partikel pada suhu tinggi bergerak lebih cepat dibandingkan pada suhu rendah. Akibatnya, kontak antara zat terlarut dengan zat pelarut menjadi lebih efektif. Hal tersebut menyebabkan zat terlarut menjadi lebih mudah larut pada suhu tinggi. Ukuran  partikel juga dapat mempengaruhi kelarutan. Zat terlarut dengan ukuran kecil (serbuk) lebih mudah melarut dibandingkan dengan zat terlarut yang berukuran besar. Alasannya pada zat terlarut berupa serbuk luas permukaan sentuh partikel dengan pelarut menjadi lebih luas daripada zat terlarut yang berukuran besar. Luas permukaan sentuh yang semakin luas membuat partikel semakin banyak dapat bereaksi dengan pelarut.
Volume dapat mempengaruhi kelarutan seperti halnya ukuran partikel. Volume pelarut yang lebih besar atau banyak dapat memudahkan zat terlarut untuk dapat larut. Selain hal diatas, faktor kelarutan juga dapat dipengaruhi oleh faktor mekanik, contohnya faktor pengadukan. Pengadukan dapat menyebabkan partikel-partikel antar zat pelarut dengan terlarut akan semakin sering untuk bertabrakan. Hal inilah yang menyebabkan proses kelarutan menjadi semakin cepat.
Pada percoban kali ini dilakukan pemanasan. Namun pemanasan yang dilakukan berbeda dengan pemanasan pada umumnya. Pemanasan pada percobaan ini biasa dikenal sebagai pemanasan refluk. Pada proses pemanasan dengan cara direfluks ini, pelarut/campuran bahan tersebut menguap pada suhu tinggi, namun didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap, mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut tetap ada selama reaksi berlangsung. Hal ini sangat berbeda dengan pemanasan yang biasa dilakukan, karena dapat berbentuk uap tanpa adanya peristiwa pengembunan, sehingga mengurangi hasil kuantitatif dari suatu reaksi. Selain dapat mempercepat reaksi, pemanasan dengan cara refluks juga memiliki fungsi untuk menyempurnakan reaksi, dengan jalan tidak mengurangi konsentrasi karena penguapan.
Pada saat anilin dan asam asetat dimasukkan ke dalam labu, maka perubahan yang terjadi dinding labu tersa hangat ketika dipegang. Hal tersebut menandai bahwa reaksi yang berlangsung tergolong ke dalam reaksi eksoterm atau suatu reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistim ke lingkungan, ditandai dengan adanya kenaikan suhu lingkungan disekitar sistem, sehingga terasa hangat ketika disentuh. Selain reaksi eksoterm juga ada reaksi endoterm atau suatu reaksi yang disertai  dengan perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem, ditandai dengan adanya penurunan suhu lingkungan di sekitar sistem, sehingga terasa dingin ketika disentuh. Namun pada praktikum kali ini hanya reaksi eksoterm yang terjadi.
Pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari suatu larutan atau suatu lelehan disebut kristalisasi. Hasil dari kristalisasi ini berupa kristal yang berwarna kekuning-kuningan. Ini menandakan masih terdapat zat pengotor di dalamnya. Untuk mendapatkan produk yang lebih murni perlu dilakukan rekristalisasi. Suatu proses pemurnian bahan dapat berupa kristal dengan cara pemanasan sehingga didapatkan kristal yang lebih murni yang prinsipnya didasarkan pada perbedaan daya larut antara bahan yang akan dimurnikan dengan pengotornya serta perbedaan titik didih antara pelarut dengan bahan yang akan dikristalkan dikenal sebagai rekristalisasi. Tujuan dari rekristalisasi, agar mendapatkan produk yang murni atau bebas dari zat pengotornya.
Pada percobaan kali ini digunakan dua analisa diantaranya analisa kualitatif dan anlisa kuantitatif. Analisa kualitatif menganalisa suatu senyawa didalam suatu sampel berdasarkan hal-hal yang nampak oleh panca indra seperti bau dan warna. Pada percobaan ini analisa kualitatif didasarkan pada pengamatan-pengamatan pencampuran reaksi yang dilakukan dan pada saat mengamati pembentukan kristal selama proses praktikum berlangsung. Selain analisa kualitatif, pada percobaan ini digunakan pula analisa kuantitatif. Analisa kuantitatif menganalisa jumlah atom, ion, gugus atau senyawa tertentu dalam suatu bahan atau campuran bahan. Analisa kuantitatif pada percobaan didasarkan pada proses perhitungan rendemen dan titik leleh kristal asetanilida yang telah dikeringkan.

XIII. KESIMPULAN
1.                   Kristalisasi bertujuan untuk pembentukan kristal pada larutan.
2.                  Rekristalisasi bertujuan untuk memurnikan kembali kristal yang didapat agar terbebas dari kotoran.
3.                  Analisa yang digunakan pada percobaan ini diantaranya analisa kualitatif dan analisa kuantitatif.
4.                  Pemanasan yang dilakukan dinamakan pemanasan dengan metode refluks
5.                  Reaksi antara anilin dan anhidrida asam asetat membentuk suatu amida.  

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Puspita. 2011. Anilin. (puspitafirsty.files.wordpress.com/2011/04/anilin.docx,  diakses pada 27 April 2013 pukul 20 : 28)

Clark, Jim. 2007. Anhidrida Asam. (http://www.chem-is-try.org/materi_ kimia/sifat_senyawa_organik/anhidrida_asam/pengantar_anhidrida_asam/ , diakses pada 27 April 2013 pukul 19 : 21)
Mahirullah. 2013. Anhidrida Asam. (http://mahirullah.wordpress.com 2013/03/10/ester-dan-anhidrida-asam/, diakses pada 27 April 2013 pukul 
19 : 07)
Budi. 2007. Sintesis Asetanilida. (http://budybear.multiply.com/journal/ item/96/Kimia-Sintesa-Asetanilida?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal %2Fitem  = , diakses pada 27 April 2013 pukul 20 : 01)
Pramushinta, Diah. 2010. Asetanilida.(http://inuyashaku.wordpress. Com/2010/11/05/ asetanilida/, diakses pada 27 April 2013 pukul 20 :23)
Purnama, Tiya. 2012. Sedtilasi Refluks. (http://theprincess9208.wordpress .com/2012 /11/20/destilasi-refluks/, diakses pada 27 April 2013 pukul 21 : 36)
Hidayat, Arief. 2012. Refluks. (http://www.scribd.com/doc/87346268/Re fluks, diakses pada 27 April 2013 pukul 21 : 57)
Farida. 2007. Kristalisasi. (http://farida.net78.net/index.php?option=com _content& task=view&id=22&Itemid=27, diakses pada 27 April 2013 pukul 22 : 05)
Annisa. 2008. Rekristalisasi. (http://annisanfushie.wordpress.com/2008/ 12/16/pemisahan-pemurnian-zat-padat-rekristalisasi-titik-leleh/, diakses pada 27 April 2013 pukul 21 : 45)







Tuesday, November 25, 2014

artikel penyakit PES (Pasteurella pestis)

SEJARAH

Sejarah mencatat kutu dari tikus-tikus Asia (Xenopsylla cheopis) penyebab penyakit PES telah menyebabkan wabah di negara-negara barat pada abad ke-XIV dan dikabarkan 25 ribu orang terkena penyakit tersebut.

Hospes Definitif

manusia

Hospes Reservoir 

hewan-hewan rodent (tikus,kelinci, tupai)

PENYAKIT PES DISEBABKAN

  • Kuman/bakteri Yersinia pestis (Pasteurella pestis).
  • Kuman berbentuk batang, ukuran 1,5-2X0,5-0,7 mikron.
  •  Bersifat bipolar, non motil, non sporing.
  • Pada suhu 28°C merupakan suhu optimun tetapi kapsul terbentuk tidak sempurna.
  • Pada suhu 37°C merupakan suhu yang terbaik bagi pertumbuhan bakteri tersebut.

PENGGOLONGAN PENYAKIT PES

  1. PES Bubo (Pembengkakan kelenjar)
  2. PES Paru

GEJALA KLINIK

PES BUBO
  1. Demam tinggi
  2. Tubuh menggigil
  3. Perasaan tidak enak
  4. Nyeri otot
  5. Sakit Kepala hebat
  6. Pembengkakan kelenjar lipat paha, ketiak, dan leher (bubo sebesar buah duku bentuk oval dan lunak, serta nyeri)
  7. Pembengkakan kelenjar limpa
PES Paru (Pneumonik)
  1. Batuk hebat
  2. Air liur berdarah
  3. Susah bernafas
  4. Sesak nafas

DIAGNOSIS

Dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

1. Diagnosis lapangan :

Diagnosis di lapangan ditemukan adanya tikus mati tanpa sebab-sebab yang jelas (rat fall) di daerah fokus PES atau bekas fokus PES.

2. Diagnosis Klinis :
Adanya demam tanpa sebab-sebab yang jelas (FUO = Fever Unkwon Origin). Timbul bubo (pembengkakan kelenjar) sebesar buah duku pada leher/ ketiak/ selangkangan. Batuk darah mendadak tanpa tanpa gejala yang jelas sebelumnya.

3. Diagnosa Laboratorium :

Spesimen yang diperiksa adalah serum, yang berasal dari: • Rodent (tikus) • Manusia • Species hewan lain seperti anjing,kucing

PENGOBATAN

Streptomycine

Dengan dosis 3 gram/hari (IM) selama 2 hari, kemudian dikurangi dosis selama 5 hari , setelah panas hilang dilanjutkan dengan pemberian :

Tetracycline

4-6 gram/hari selama 2 hari berturut-turut, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut atau

Chloramphenicol 

6-8 gram/hari selama 5 hari berturut –turut, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut.

PENCEGAHAN
  • Terhadap lingkungan hidup digunakan larutan minyak tanah, Diazinon, Lindane 1%, bubuk (1 nertdust), Malathion 10%, triklofin 1%.
  •  Dilakukan melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
  • Mencegah terjadinya kontak dengan tikus serta pinjalnya.



Ads Inside Post

semoga bermanfaat